Bagi peternak sapi, memahami kandungan nutrisi rumput pakan sapi sangatlah penting untuk memastikan ternak mendapatkan gizi yang cukup. Rumput merupakan pakan hijauan utama yang menyediakan protein, serat, mineral, dan energi bagi sapi.
Tiga jenis rumput yang umum digunakan sebagai pakan sapi adalah rumput odot, rumput gajah, dan rumput setaria. Masing-masing memiliki keunggulan nutrisi tersendiri. Artikel ini akan mengulas kandungan protein, serat kasar, kalsium, dan energi dari ketiga rumput tersebut secara informatif dan mudah dipahami.
Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott)

Protein: Rumput odot dikenal sebagai rumput unggul dengan kandungan protein yang paling tinggi di antara ketiganya. Protein kasar rumput odot bisa mencapai sekitar 12–17% dari bahan kering. Rata-rata kadar protein kasarnya berkisar di 14%, jauh lebih tinggi dibanding “rumput gajah” biasa. Hal ini berarti rumput odot dapat menyumbang asupan protein yang baik untuk pertumbuhan dan produksi ternak sapi.
Serat Kasar: Keistimewaan lain rumput odot adalah serat kasarnya yang lebih rendah dan tekstur batang yang lebih lunak. Serat kasar odot sekitar 28–33% dari bahan kering, lebih rendah dibanding rumput gajah. Serat yang lebih rendah membuat rumput ini lebih mudah dicerna.
Bahkan, total nutrisi tercerna (TDN) rumput odot mencapai ~64%, menandakan energi yang tinggi dan kecernaan yang baik. Sapi biasanya sangat menyukai rumput odot karena teksturnya empuk dan mudah dikunyah.
Kalsium dan Mineral: Kandungan mineral rumput odot pun cukup baik. Sebagai perbandingan, kadar kalsium pada rumput odot mirip dengan rumput gajah, sekitar 0,3% dari berat kering pakan. Jumlah ini membantu memenuhi kebutuhan mineral dasar sapi, meskipun peternak tetap perlu memastikan mineral lain terpenuhi dari pakan tambahan.
Keunggulan: Dengan protein tinggi dan serat yang mudah dicerna, rumput odot sangat cocok untuk penggemukan maupun mendukung produksi susu. Rumput ini juga produktif dan cepat tumbuh; dapat dipanen setiap 40 hari sekali pada musim hujan. Peternak banyak yang beralih ke odot karena nilai gizinya yang lebih tinggi dibanding rumput gajah biasa, serta palatabilitasnya (kesukaan ternak) yang tinggi.
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)

Protein: Rumput gajah atau napier grass adalah hijauan klasik untuk sapi. Kandungan protein kasarnya berkisar 8–10% dari bahan kering. Pada kondisi optimal (rumput muda atau pemupukan baik), protein bisa mendekati 10%, namun pada rumput yang sudah tua biasanya di kisaran bawah angka tersebut. Meskipun kadar proteinnya tidak setinggi rumput odot, rumput gajah tetap menjadi sumber protein penting terutama karena produksinya melimpah.
Serat Kasar: Serat kasar rumput gajah tergolong sedang hingga tinggi, sekitar 30–35% dari bahan kering. Artinya, daunnya cukup berserat dan jika terlambat panen batangnya akan semakin keras. Serat kasar yang sekitar sepertiga bahan kering ini berguna untuk kesehatan pencernaan sapi (membantu fungsi rumen), namun jika terlalu tinggi dapat menurunkan kecernaan.
Nilai kecernaan/energi rumput gajah umumnya sedikit di bawah odot, sekitar 60% TDN (tergantung umur panen). Oleh karena itu, disarankan memotong rumput gajah pada usia muda (40–50 hari) saat serat belum terlalu tinggi agar kualitas nutrisi lebih baik.
Kalsium dan Mineral: Kandungan kalsium rumput gajah sekitar 0,3% bahan kering, mirip dengan odot. Mineral ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kalsium dasar ternak sapi perah maupun pedaging, apalagi jika sapi mengonsumsi rumput gajah dalam jumlah banyak.
Namun, karena rumput gajah memiliki produksi biomassa yang tinggi, tanah tempat tumbuhnya sebaiknya dipupuk agar kandungan mineral (termasuk fosfor dan magnesium) tetap optimal di dalam tanaman.
Keunggulan: Kelebihan utama rumput gajah adalah produksi hijauan yang sangat tinggi. Dalam satu hektar, rumput gajah dapat menghasilkan puluhan ton biomassa hijauan per tahun. Peternak menyukai rumput ini karena mudah tumbuh di berbagai kondisi lahan dan bisa dipanen berkali-kali.
Meskipun nutrisi per kg-nya sedikit di bawah odot, volume panennya yang besar menjadikannya andalan untuk menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun. Agar rumput gajah lebih mudah dikonsumsi sapi, peternak sering mencacahnya menggunakan alat seperti mesin pencacah rumput sehingga potongan rumput lebih kecil dan tercampur merata dalam ransum.
Rumput Setaria (Setaria sphacelata)

Protein: Rumput setaria dikenal sebagai rumput padang yang tahan kondisi tanah kurang subur dan sering ditanam di lahan berbukit untuk mencegah erosi. Secara nutrisi, protein kasar rumput setaria tergolong lebih rendah dibanding odot dan gajah. Kadar proteinnya sekitar 6–9% bahan kering, tergantung pemupukan dan umur panen.
Pada panen umur sekitar 6 minggu, protein setaria bisa ~9%, tetapi jika dibiarkan tua atau tanpa pemupukan, proteinnya dapat hanya ~6–7%. Oleh sebab itu, rumput setaria biasanya dipakai sebagai pakan pendamping dan sebaiknya dicampur dengan sumber protein lain (misal legum atau konsentrat).
Serat Kasar: Rumput setaria memiliki serat kasar yang cukup tinggi, dapat mencapai sekitar 40% dari bahan kering pada rumput yang sudah tua. Pada panen muda (sekitar 40–50 hari), serat kasarnya tercatat sekitar 30–32%, namun jika dibiarkan tumbuh lebih lama serat akan semakin tinggi dan kualitasnya menurun.
Serat yang tinggi berarti tingkat kecernaan/energi rumput setaria sedikit lebih rendah dibanding rumput odot maupun gajah. Perkiraan nilai TDN-nya sekitar 55–60% (lebih rendah bila rumput tua). Meski demikian, serat yang tinggi ini membantu memenuhi kebutuhan pengisian rumen dan cocok untuk mempertahankan fungsi pencernaan sapi, asalkan disertai pakan lain yang lebih mudah dicerna.
Kalsium dan Mineral: Kandungan kalsium rumput setaria berada di kisaran 0,2–0,25% bahan kering. Sekilas mirip dengan rumput gajah, namun perlu diperhatikan bahwa setaria mengandung senyawa oksalat cukup tinggi. Oksalat bisa mengikat kalsium, sehingga ketersediaan kalsium untuk ternak mungkin berkurang.
Karena itu, jika sapi banyak diberi rumput setaria, peternak sebaiknya menyediakan sumber kalsium tambahan atau tidak menjadikan setaria sebagai satu-satunya pakan hijauan.
Perbandingan Nutrisi Ketiga Jenis Rumput
Untuk memudahkan pemahaman, berikut tabel perbandingan Kandungan nutrisi utama dari rumput pakan sapi, rumput odot, gajah, dan setaria (dalam % bahan kering):
| Jenis Rumput | Protein Kasar | Serat Kasar | Kalsium | TDN (Energi) |
|---|---|---|---|---|
| Rumput Odot | ~14% (12–17%) | ~28–33% | ~0,3% (cukup) | ~64% (tinggi) |
| Rumput Gajah | ~9–10% | ~30–35% | ~0,3% | ~60% (sedang) |
| Rumput Setaria | ~6–9% | ~35–40% |
Catatan: Angka pada tabel adalah estimasi rata-rata. Kandungan nutrisi rumput pakan sapi dapat bervariasi tergantung umur panen, kondisi tanah, pemupukan, dan bagian tanaman yang dimakan. Rumput yang lebih muda biasanya mengandung protein lebih tinggi dan serat lebih rendah, sedangkan rumput tua sebaliknya. Oleh karena itu, manajemen pemotongan yang tepat sangat berpengaruh pada kualitas gizi hijauan.
Kesimpulan
Ketiga jenis rumput pakan sapi di atas memiliki kelebihan masing-masing. Rumput odot unggul dalam protein dan kecernaan, cocok untuk peningkatan bobot ternak. Rumput gajah unggul dalam produksi massal, mudah dibudidayakan, dan tetap menyediakan nutrisi yang layak dengan protein sekitar 8–10%.
Rumput setaria meski proteinnya paling rendah, berguna sebagai hijauan pelengkap yang tahan banting di lahan marginal. Peternak dapat memadukan ketiga rumput ini untuk saling melengkapi: odot untuk kualitas, gajah untuk kuantitas, dan setaria untuk keawetan di lahan sulit.
Dengan pemahaman kandungan nutrisi masing-masing rumput, diharapkan peternak sapi dapat menyusun strategi pemberian pakan yang seimbang, ekonomis, dan meningkatkan produktivitas ternak secara berkelanjutan.
